‘Sedang’ Shaleh dan ‘Sedang’ Tidak Shaleh

Keshalehan adalah puncak dari proses yang tak berujung selama kita masih hidup. Dan proses tersebut baru akan berhenti setelah kita mati. Maka dari itu Allah selalu menerima taubat hambaNya -yang merupakan pintu gerbang keshalehan- sampai sejenak sebelum kematiannya (ghargharah).

Maka sepertinya kurang elegan jika kita buru-buru menilai orang lain secara hitam-putih apalagi memvonis bahwa orang lain tidak shaleh selama masih dalam proses tersebut (hidup). Sebaliknya, terlalu naif jika kita merasa bangga atas keberadaan diri kita yang -saat ini- sedang menjalani lakon sebagai orang yang taat beragama, terlebih jika kita “mempublikasikan” ketaatan kita.

Bukankah keberimanan (keshalehan) kita saat ini adalah anugerah Allah yang kapan saja bisa Dia cabut sehingga kita menjadi sebejat-bejatnya manusia?! Bukankah kita tak pernah tahu secara pasti apakah kita sendiri akan mati dalam keadaan husnul-khatimah atau tidak, padahal saat ajal menjelanglah “raport” kehidupan kita ditetapkan?!

Mmm… Sepertinya ada benarnya ungkapan seorang teman: “Tak ada orang shaleh dan orang tidak shaleh. Yang ada, orang yang ‘sedang’ shaleh dan orang yang ‘sedang’ tidak shaleh”.

Wallahu a’lam wa bihittawfiq

Digurui, Siapa Mau?

Kebanyakan –sepengetahuan saya- orang menganggap bahwa cara menularkan kebaikan secara oral (untuk tidak mengatakan “mengajar ilmu atau memberi nasehat”) yang baik dan efektif adalah dengan cara yang tidak terkesan ‘menggurui’. Dan sepertinya kebanyakan –mungkin termasuk anda- sepakat dengan anggapan itu, meski -mungkin- belum dapat menggambarkan dengan jelas bagaimana sebenarnya sikap menggurui itu. Tulisan singkat ini hanya sebagai penyeimbang anggapan yang telah terlanjur menjadi “ijma’ ” tersebut. Continue reading Digurui, Siapa Mau?

Si Majusi Itupun Menjadi Kekasih Allah SWT

Abdullah bin Al-Mubarak bercerita:

Aku pernah melaksanakan ibadah haji, dan ketika aku berada di ‘hathim’ Ismail aku tidur. Dalam tidurku aku memimpikan Rasulullah SAW, beliau berkata padaku: ”apabila kau telah kembali ke Bagdad maka pergilah ke sebuah daerah (nama daerahnya tidak disebutkan; pen) dan cari orang yang bernama Bahram, seorang majusi, lalu sampaikan salamku padanya dan katakan padanya bahwa Allah SWT meridhainya”. Aku terbangun, dan spontan aku berkata: “Laa hawla wa laa quwwata illaa billaahil-‘aliyyil-‘adzhiim, ah..ini mimpi dari syaithan”. Continue reading Si Majusi Itupun Menjadi Kekasih Allah SWT

Al-Hasan Al-Bashri dan Farqad

Al-Hasan Al-Bashri suatu saat menghadiri sebuah acara walimah bersama seseorang bernama Farqad. Beliau adalah seorang ‘alim, sedangkan Farqad adalah seorang ‘abid (orang yang rajin beribadah).

Acara walimah itu berjalan sebagaimana biasa dan -tentunya- banyak disuguhkan jamuan-jamuan sebagaimana pada umumnya acara walimah. Namun yang tidak biasa Continue reading Al-Hasan Al-Bashri dan Farqad

Ulang Tahunku Kesedihan Sahabatku [25/10]

Malam itu ku dengar telepon selularku berdering, ah..ternyata sebuah pesan pendek yang masuk. Ku lihat isinya,“innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun”, gumamku setelah membaca isi pesan pendek tersebut yang mengabarkan bahwa putra kedua sahabatku maninggal dunia.

Sesaat otakku memutar mundur memorinya ke sekitar dua minggu lalu ketika sahabatku dengan wajah berseri menceritakan bahwa anaknya -yang sebelumnya ku dengar sakit- sudah membaik. Namun sekarang wajahnya terbalut kesedihan. “Baru dua minggu…”, pikirku setelah merangkai kembali ingatanku sejak dua minggu lalu Continue reading Ulang Tahunku Kesedihan Sahabatku [25/10]

Wahai Perempuanku

Wahai perempuanku, buatlah aku bangga akan dirimu, buatlah aku kagum akan keanggunanmu, buatlah aku segan karena kecerdasanmu, buatlah aku menghargaimu.
Wahai perempuanku, jangan kau tunjukkan kelemahanmu,jangan kau eksploitasi kecantikanmu, jangan kau andalkan lekuk tubuhmu, jangan kau hinakan dirimu. Sehingga kau pantas untuk dibanggakan, dikagumi, disegani dan dihargai.
[INTERNATIONAL WOMEN’S DAY – March, 8]

Pernah Diingatkan

Pernah diingatkan: “Sadarkah bila ada orang yang memuji kita itu karena ia tidak tahu yang sebenarnya mengenai kita? Ia memuji kita hanya karena ia mengira ada sesuatu yang hebat, keren atau mengagumkan terdapat pada diri kita. Oleh karena itu jangan sampai Ge-Er, ‘ujub apalagi takabbur deh ketika mendapat pujian, karena kita tahu seperti apa diri kita sebenarnya.” Dalam hati: “kena deh… Tapi terimakasih ya.”

Diingatkan pula: “Ketika mendapatkan pujian, berdo’alah seperti do’a sayyidina Ali ra:

وَكَانَ علي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ يَقُولُ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ، وَلَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، وَاجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ

‘ya Allah ampuni dosaku yang tidak mereka ketahui, jangan siksa aku karena ucapan mereka (pujian mereka yang berpotensi menyebabkan ‘ujub/sombong), dan jadikan aku lebih baik dari apa yang mereka kira’.

Dalam hati lagi: “Aamiin… Terimakasih ya Allah, Engkau telah mengenalkan aku dengan Ibnu Atha-illah dan Al-Ghazali.”

Do’a Unik Nabi Daud a.s.

Nabi Daud a.s. pernah berdo’a:

“Ya Allah…Aku memohon pada-Mu agar diberikan empat hal dan aku berlindung kepada-Mu dari empat hal.

Keempat hal yang aku minta adalah:

  1. Lisan yang senantiasa berzikir
  2. Hati yang selalu bersyukur
  3. Badan yang dapat bersabar
  4. Istri yang dapat menolongku dalam urusan dunia dan akhirat

Dan empat hal yang aku berlindung darinya adalah:

  1. Anak yang menjadi majikan bagiku
  2. Istri yang membuatku beruban sebelum saatnya
  3. Harta yang menjadi azab dan malapetaka bagiku
  4. Tetangga yang jika ia mengetahui hal yang baik dari diriku maka ia menyembunyikan dan menutupinya, dan jika ia mengetahui keburukan diriku maka ia menyebarluaskannya.”

Maafkan Aku Ibu

Ku terbangun tengah malam, lalu ku tengok kemar ibuku [sepeti biasa ku lakukan jika ku terbagun].
Ku buka pintu kamarnya dan ku dapati ibuku sedang tidur lelap. Hatiku tertawa lucu karena ku amati ibuku tidur sepeti bayi. Mungkin waktu ku masih bayi dulu ibuku juga sering tertawa ketika mengamati tidurku.[duuh…ibu…sepertinya kau sudah lelah sekali setelah menjalani hidup sekian lama, maafkan aku karena sampai saat ini aku belum dapat membahagiakanmu].
Setelah itu ku tutup kembali pintu kamarnya perlahan agar tidak membuatnya terbangun.

Seorang Wanita, Kentut dan Syaikh Hatim bin ‘Alwan

Syaikh Abu Ali al-Daqqaq bercerita:

Suatu hari seorang wanita mendatangi Syaikh Hatim bin ‘Alwan untuk menanyakan sebuah masalah. Namun di tengah pembicaraan tiba-tiba wanita tersebut -tanpa disengaja- mengeluarkan [maaf] kentut yang bisa dipastikan suaranya juga terdengar oleh Syaikh Hatim bin ‘Alwan. Kontan saja hal itu membuat wanita itu memerah wajahnya karena sangat malu. Menyadari hal itu Syaikh Hatim bin ‘Alwan berkata: “Tolong keraskan suaramu!”, berlagak seolah ia tuli [padahal sebenarnya Syekh Hatim bin ‘Alwan tidak tuli] yang berarti ia tidak mendengar suara kentut agar wanita itu tidak malu. Dan benar saja, ketika mendapati Syaikh Hatim bin ‘Alwan sepertinya tidak mendengar suara kentutnya, wanita itu merasa senang dan tidak merasa malu lagi sambil meneruskan pembicaraan. Oleh sebab kejadian itulah Syaikh Hatim bin ‘Alwan diberi julukan ” الأصَمُّ ” (yang tuli). Allahummaghfir lahu…