HAM, Sekularisme dan Syari’at Islam


Pendahuluan

Sebagai pemeluk agama islam tentunya kita bangga terhadap ajaran islam yang semenjak dini kita didoktrin bahwa Islam adalah agama yang tinggi dan agama yang benar di sisi Allah SWT.

Namun belakangan seiring modernisasi tidak sedikit dari pemeluk Islam yang tidak bangga lagi terhadap Islam bahkan meragukan ajarannya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya animo mereka untuk mempelajari dan mendalami ajaran Islam. Ditambah lagi dengan adanya pihak yang berusaha menjauhkan orang islam dari ajaran islam dengan menanamkan pemikiran-pemikiran yang mendeskriditkan ajaran islam. Seperti pemikiran mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) dan pemikiran mengenai pemisahan antara agama dan negara (sekularisme).

Konsep HAM menekankan bahwa manusia memiliki hak-hak dasar yang tidak boleh diganggu oleh siapapun bahkan oleh Negara sekalipun. Seperti hak untuk hidup, kebebasan berpendapat dan lain sebagainya.

Dengan menggunakan konsep ini negara-negara barat dan para pemikir non muslim banyak yang memojokkan Islam. Dalam bidang hukum misalnya, dalam syari’at Islam terdapat sangsi hukum yang berupa hukuman mati (qishash) bagi seorang pembunuh, potong tangan bagi pencuri dan lain sebagainya. Mereka mengatakan bahwa kedua sangsi hukum tersebut tidak benar  karena tidak sesuai dengan hak asasi manusia yang menjamin hak dan kebebasan manusia untuk hidup meskipun bagi pembunuh.

Sedangkan sekularisme menekankan bahwa dalam menjalankan pemerintahan sebuah negara pemerintah tidak memasukkan prinsip-prinsip agama baik dalam pembentukan undang-undang maupun dalam mengeluarkan kebijakan. Mereka berpendapat bahwa masalah negara adalah urusan dunia sedangkan agama adalah urusan individu.

Sekilas memang kedua pemikiran di atas dapat kita terima secara logis dan sesuai dengan perkembangan zaman dan peradaban manusia. Akan tetapi jika kita teliti lebih dalam lagi akan terlihat bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang sempurna dan sesuai dengan fitrah manusia. Dengan begitu kita akan mendapati bukti yang menambahkan keyakinan kita bahwa Islam adalah agama yang benar dan tinggi.

الإِسْلاَمُ يَعْلُوْ وَلاَ يُعْلَى عَلَيْهِ

“Agama islam tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.”

Maqashid asy-Syari’ah dan Hah Asasi Manusia (HAM)

‘Ilal Al-Fasy dalam bukunya Maqashid asy-Syari’ah Wa Makarimuha mendefinisikan Maqashid asy-Syari’ah sebagai  tujuan dan hikmah yang ditetapkan Allah SWT pada tiap-tiap hukum syari’at yang Dia turunkan.[1] Jadi setiap kali Allah SWT  menurunkan syari’at di dalamnya pasti terdapat tujuan dan hikmah.

Secara garis besar Maqashid asy-Syari’ah adalah memperoleh kemaslahatan dan kemanfaatan serta menghindari mafsadah (kerusakan).

Lebih  jauh lagi Al-Laqqani mengemukakan bahwa dasar-dasar ajaran islam meliputi enam aspek perlindungan; (1) perlindungan terhadap  agama, (2) perlindungan terhadap fisik, (3) perlindungan terhadap harta benda, (4) perlindungan terhadap garis keturunan, (5) perlindungan terhadap akal, dan (6) perlindungan terhadap harga diri. Hal ini sebagaimana yang ia ungkapkan: [2]

وَحِفْظُ دِيْنٍ ثُمَّ نَفْسٍ مَال نَسَبْ  ¤  وَمِثْلُهَا عَقْلٌ وَعِرْضٌ قَدْ وَجَبْ

Namun pihak-pihak yang ingin menjauhkan umat islam dari ajarannya dan menghancurkan Islam dengan dalih melindungi hak asasi manusia menanamkan pemikiran-pemikiran bahwa syari’at islam tidak tepat dan tidak relevan. Mereka mencontohkan hukuman qishash bagi pembunuh dan hukuman potong tangan bagi pencuri yang menurut mereka kedua hukuman itu bertentangan dengan hak asasi manusia.

Mereka yang menyebut diri mereka sebagai pejuang HAM lebih memikirkan pembunuh, mereka beranggapan para pelaku kriminal ini harus diperhatikan oleh masyarakat karena mereka menderita penyakit psikis yang tidak bisa disembuhkan dengan hukum islam yang menurut mereka kejam dan tidak sesuai dengan zaman sekarang.[3]

Prinsip hukum pidana islam adalah az-zajr (preventif), oleh karena itu Allah SWT mensyari’atkan qishash dan potong tangan untuk  melindungi darah,  jiwa dan harta benda manusia.

Karena dengan adanya qishash orang yang berniat untuk membunuh akan berpikir dua kali, dan pada akhirnya  ia  tidak  jadi membunuh karena hukumannya sangat berat. Dengan begitu akan terjagalah nyawa manusia. Allah SWT befiman:

(وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ  (البقرة : 179

Dan bagi kamu sekalian dalam hukuman qishash terdapat kehidupan wahai orang-orang yang memiliki akal agar kamu sekalian bertakwa.”

Dari segi efisiensi hukuman penjara ternyata juga tidak efisien. Karena menurut survei pengeluaran negara untuk biaya makan narapidana perhari mencapai miliaran rupiah. Dan semakin hari biaya yang dikeluarkan terus bertambah karena setiap hari pula pembunuh-pembunuh masuk penjara. Tidakkah akan lebih baik dan lebih berguna jika biaya tersebut dialihkan -misalnya- untuk pengembangan ekonomi rakyat?.

Inilah cara berpikir yang benar! Sedangkan mereka yang merasa membela HAM tidak berpikir secara benar,  justru merekalah yang menghancurkan umat manusia. Karena sebenarnya mereka lebih memikirkan dari sisi pembunuh saja, tidak dari sisi orang yang terbunuh dan keluarganya. Dan pada kenyataannya kasus pembunuhan tidaklah menurun karena hukumannya hanya sekadar dua puluh tahun penjara.

Konsep Sekularisme dan Konsep Syari’at

Sekular berasal dari bahasa inggris secular yang berarti; mengenai hal-hal duniawi. Kemudian istilah sekularisme dikenal sebagai istilah bagi faham yang memengajarkan pemisahan antara agama dan negara. Faham ini menekankan bahwa agama tidak boleh ikut campur dalam masalah negara. Pemerintah dalam membentuk undang-undang dan mengeluarkan kebijakan negara tidak boleh berdasarkan agama, karena faham ini menganggap negara adalah urusan duniawi yang tidak ada sangkut pautnya dengan agama yang merupakan urusan pribadi.

Sedangkan agama (baca: syari’at islam- pen.) diturunkan untuk mengatur perikehidupan manusia dalam segala aspek kehidupannya, dari aspek pribadi, sosial, ekonomi sampai aspek politik. Dengan agama segala perikehidupan manusia menjadi teratur yang pada akhirnya akan membuahkan ketentraman dan kedamaian. Jadi tidak benar apabila negara tidak berkaitan dengan agama.

Akhir-akhir ini dirasakan adanya usaha sekularisasi di Indonesia. Buktinya banyak masyarakat yang beranggapan masalah agama adalah masalah pribadi yang orang lain bahkan negara tidak boleh ikut campur. Banyak pula masyarakat yang beranggapan bahwa agama hanya mengatur urusan ibadah kepada Tuhan (baca: Allah SWT- pen.), sehingga banyak perilaku masyarakat yang bertentangan dengan aturan agama. Seperti dalam etika bisnis, banyak orang yang sudah tidak lagi mengindahkan halal-haram, bagi mereka bagaimanapun caranya asal bisnisnya maju dan menghasilkan untung yang besar. Dalam mecari nafkahpun banyak yang sudah tidak memperdulikan dan memperhitungkan apakah rejeki yang mereka dapatkan halal-haram, karena bagi mereka urusan itu adalah urusan dunia, mereka berpikir “yang penting saya tetap menjalankan ibadah dan baik terhadap orang lain.

Kita harus menyadari bahwa agama mengatur segala sisi kehidupan kita, sehingga ketika kita akan melakukan sesuatu kita selalu berpedoman pada aturan syari’at.

Penutup

Dari paparan di atas jelaslah bahwa syari’at islam diturunkan untuk kemaslahatan dan kebaikan umat manusia bahkan juga untuk kebaikan makhluk lain di dunia ini. Syari’at islam sangat memperhatikan Hak Asasi Manusia. Segala sisi  kehidupan manusia seluruhnya diatur oleh syari’at untuk menjadikan kehidupan manusia tenteram, aman  dan penuh kedamaian.

Kita sebagai umat islam harus bangga dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar dan sesuai dengan fitrah manusia serta sesuai dengan perkembangan zaman, sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang ahli hikmah: “Islam tidak mengikuti zaman, Islam juga tidak ketiggalan zaman, akan tetapi Islam mengantisipasi perkembangan zaman.”

Dan hendaknya kita sebagai umat islam lebih memperhatikan dan terus mempelajari serta menambah pengetahuan tentang ajaran Islam agar kita lebih meyakininya dan tidak terpengaruh oleh pemikiran orang-orang yang ingin menghancurkan Islam.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah SWT selalu memberikan perlindungan, rahmat dan ampunan pada kita dan seluruh umat islam. Amien…


[1] ‘Ilal al-Fasi, Maqashid asy-Syari’ah wa Makarimuha, Mesir: Mathba’ah ar-Risalah, 1974, cet. 2, h. 3

[2] Lih. Abu Bakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anah ath-Thalibin, Semarang: Toha Putra,  j. 4, h. 142.

[3] Lih. Muhammad Ali Ash-Shabuni, Rawai’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an, Beirut: Daar al-Fikr, j. 1, h. 441-442.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s